Jumat, 06 Februari 2009

Tsunami

Tidak ada yang kukhawatirkan. Saat ini tidak ada sedikitpun firasat buruk yang kurasakan. Firasat buruk apa pun tidak ada satu pun yang kurasakan.

“Apa itu?” tercengang, gadis yang kuajak untuk menikmati saat-saat tahun baru itu menganga menatap langit.

Bukan.

Bukan langit.

Hanya beberapa awan yang berbentuk aneh seperti angin puting beliung, berbentuk vertikal.

Aku mengabaikannya, firasat buruk ini. Bukan. Lebih tepat ingin kuabaikan. Habis benar-benar menyenangkan. Saat diri sendiri sedang terpuruk dalam rasa cemas, khawatir, takut, marah, dan kondisi tidak bisa membicarakan apapun, kalau bersamanya seakan terlupakan. Perasaan 'tidak mengkhawatirkan apa pun' ini, suatu saat akan berubah menjadi 'tidak sedikit pun yang kukhawatirkan', bukan? Kalau dipikir-pikir, sejak beberapa jam sebelum itu, bukan. Sejak Gerakan Aceh Merdeka memulai agresi militernya, aku, kami, seakan-akan berusaha sekuat tenaga untuk menekan degup jantung di sudut hati. Seakan-akan untuk itu kami datang kemari.

Aceh, 26 Desember 2004.

“Happy New Yeaaar!! Selamat tahun baru ya! Dimana kemarin natalan?” Petasan memekakkan bunyinya, orang-orang sibuk mengucapkan berbagai basa-basi tahun baru. Melupakan konflik yang tengah melanda negara mereka. Sedangkan aku? Aku sama sekali tak berada di sana. Perhatianku teralih pada segerombolan kawanan burung putih yang terbang berarak-arak di langit kota Banda Aceh. Kurasakan hal yang aneh. Seakan-akan pijakan bumi menghilang. Perasaan resah ini, seakan-akan berada di atas papan yang mengapung di air.

“Tadi rasanya bergetar ya?”

“Nggak, kok”

“Mabuk tuh! Kamu mabuk!”

Masih, mereka tertawa. Seakan guncangan tadi itu bohong belaka.

Hari ini. Pagi hari di tengah natal dan tahun baru, ratusan ribu orang berkumpul di pesisir pantai. Hampir satu juta orang berkumpul menikmati terbitnya matahari menjelang awal tahun baru. Tapi, di antara mereka hampir tidak ada yang menyadari getaran sekilas tadi. Sekalipun ada,

Terjadi lagi. Dengan getaran beribu-ribu kali lipat, jauh lebih hebat dari sebelumnya. Aku tahu, beberapa saat lagi getaran ini, akan menimbulkan pengaruh yang kuat pada gelombang air laut. Bukan hanya itu, gelombang akan mengarah ke garis tepi pantai di mana ratusan ribu orang sedang bercengkrama di bawah sinar matahari pagi.

Darah seluruh tubuhku tersedot. Tidak ada yang bisa aku lakukan. Ia juga sama. Dengan sorot mata yang mengatakan 'aku tidak percaya', ia tersimpuh. Pandangan matanya kosong.

Tiba-tiba ia membenturkan kepalanya di trotoar jalan. Kemudian bangkit, seperti ingin berlari. Itu bagus. Dalam situasi seperti ini, yang bisa dan harus dilakukan adalah menyelamatkan diri. Tapi ada sesuatu yang salah. Ia ingin berlari ke arah timur. Ke arah pantai timur Aceh.

“Kau tidak boleh turun.” Suaraku begitu tenang. Kucengkram tangan kirinya kuat-kuat.

“Rudi?” Air mukanya berubah. Begitu cepat. Aku seumur hidupku tak pernah melihat air muka seperti itu. Begitu keras. “Lepaskan tanganku!” teriaknya.

“Jangan bercanda! Kamu mengerti, kan? Memangnya apa yang bisa kau lakukan? Bertahan di tempat ini pun belum tentu bisa selamat. Memangnya apa yang bisa kau lakukan pada ratusan ribu orang itu? Ini berbeda dengan kasus sebelumnya.”

Benar. Sangat berbeda. Masih kuingat dengan sangat jelas peristiwa itu. Pertama kali kami bertemu. Bali, empat tahun lalu.

Dikelilingi oleh warna merah, seorang gadis berteriak-teriak ke luar jendela sedangkan aku duduk diam sambil melindungi diri. Kulirik ke arah kanan, satu-satunya jalan masuk sekaligus jalan keluar kami telah porak-poranda oleh lantai atas yang telah ambruk. Didekatnya terdapat tubuh anak-anak, wanita, usia lanjut, berserakan dengan banyak darah. Isi kepalanya berhamburan, bau daging manusia hangus memenuhi ruangan semi-basement itu. Hampir tidak ada yang bergerak. Sekarat atau mayat. Entahlah.

“Tolong kami!”

“Ulurkan tangan kalian!”

“Telepon 113!”

“Panggil Ambulans!”

“Tolong!”

Begitu terus. Diulang-ulang dengan keras. Seperti pita kaset yang sudah rusak.

“Percuma.” Aku memecah suasana. “Bukan berarti yang kau lakukan itu salah, tapi mereka pejalan kaki yang jauh di atas sana. Memohon seperti apapun di Indonesia, mana ada pejalan kaki yang akan membalikkan tubuhnya menolong. Siapapun hanya memikirkan dan melindungi dirinya sendiri.” Aku berbicara pada si gadis kecil. Umurnya kurang lebih sama denganku. Kulihat ia, dengan baju hangat yang telah hangus, terpana seolah tersadar dari mimpi yang cukup panjang. Melihat ke luar jendela. Menyaksikan orang-orang berlalu dengan santainya, seakan tidak ada sesuatu yang terjadi. Yang lainnya menonton dengan sangat antusias. Hampir semua dari mereka mengeluarkan ponsel mereka. Bukan untuk memanggil bantuan. Tapi dengan senyum yang menghiasi wajah, mereka merekam kejadian itu, seakan peristiwa tersebut merupakan suatu tontonan hiburan masyarakat yang sangat jarang terjadi.

“Walaupun akhirnya kau bisa menyelamatkan beberapa dari mereka, ini bukanlah situasi yang bisa kau tangani. Sekarang, yang bisa dilakukan adalah secepatnya menyelamatkan diri. Hanya itu yang bisa kita lakukan.”

Tanganku bergetar. Sial. Apa hanya ini yang bisa kukatakan?

“Aku tahu.” Kurasakan, ia bergetar hebat. Jauh daripadaku. “Aku tahu, Rudi. Tapi. Aku ingin menolong. Walau hanya seorang, aku ingin menolong orang yang mungkin bisa tertolong. Aku tidak bisa membiarkan mereka. Aku tidak bisa membiarkan mereka.” Ia akan menangis, matanya berkaca-kaca. “Rudi, kau juga begitu 'kan?”

Lengkap sudah.

Sial.

Sial.

SIALAAAN!!

“Baiklah. Mungkin ada yang bisa kita lakukan. TAPI,” kutekankan suaraku. “Cukup lakukan yang kita bisa, setelah itu segera menjauh dari tempat ini.”

Aku belum pernah berlari secepat ini. Waktunya sempit. Bahkan aku tak memiliki cukup waktu untuk berpikir bahwa tindakanku ini akan sia-sia saja. Kami berlari, berbenturan dengan berpuluh-puluh orang. Kulihat sekilas, jalanan dipenuhi dengan berbagai macam kendaraan.

Si gadis berlari menghampiri salah satu kendaraan. Tanpa menunggu sedetik juga, dibunyikannya klakson kendaraan tersebut.

“Maaf, kami anggota kepolisian divisi khusus.” aku membual. “Ada bahaya bencana yang akan terjadi lagi dengan skala jauh lebih besar. Mohon kerja samanya.” Aku berusaha menenangkan kakek-kakek pengemudi yang memiliki kendaraan tersebut.

Aku berusaha tenang. Kucoba memperhatikan sekelilingku.

“Apaan, sih?”

“Berisik banget.”

Kepalaku pening. Aku sadar. Yang kulakukan tidak lain kecuali sia-sia. Kulihat ke arah pantai. Berapa orang?

“Manusia banyak sekali jumlahnya, ya. Baik yang berdiri di tebing-tebing karang maupun di pantai.” Kata-kata gadis itu ketika matahari baru saja terbit terngiang di telingaku.

Berapa jumlah orang yang berkumpul di pesisir pantai ini?

Sudut mataku berubah. Air pantai surut.

“Sudah batasnya, cepat tinggalkan tempat ini!” Kucengkram lengannya. Lebih keras.

Kulihat ia ingin membantah. “Tidak boleh! Sudah batasnya. Sekarang ayo pergi dari sini!” kesabaranku hilang. Kutarik tangannya berlari menjauhi garis pantai.

“SEMUANYA. BAHAYA TSUNAMI! SELAMATKAN DIRI KE TEMPAT TINGGI!” kudengar ia berteriak. Tapi aku tidak peduli, tidak menoleh. Aku terus berlari, berlari, dan berlari menjauhi garis pantai. Yang kupikirkan hanya satu. Bertahan hidup.

Beberapa saat kemudian, samar-samar kudengar suara klakson yang saling bersahutan. Beberapa orang yang menyadari sesuatu akan terjadi ikut membunyikan klakson mobil mereka.

Klakson mobil yang kami bunyikan seharusnya dapat menyelamatkan nasib orang-orang yang berada di ambang kematian itu. Tapi, dari beberapa rekaman video yang tersisa dan kesaksian beberapa orang, terungkap suatu fakta besar yang ganjil. Hanya mereka yang menyadari isyarat datangnya bahaya dari klakson yang berbunyi tanpa arti itu yang melakukan tindakan penyelamatan diri. Baik secara sendiri ataupun berdua, sedikit sekali orang yang tanggap. Sedang mereka yang merasa penasaran pada fenomena menyusutnya garis pantai yang belum pernah mereka lihat di depan mata, sudut pandangnya meningkat beberapa derajat ketika ia menyadari kejanggalan kondisi permukaan laut yang dilihatnya.

Semuanya sudah terlambat.

Kembali kuteringat jalan di malam hari, ketika mendengar cerita tentang seekor makhluk hidup yang hampir tertabrak mobil, 'kenapa dia tidak menghindar ketika tersorot lampu mobil?' Sempat pertanyaan seperti itu bergema di telingaku. Tapi justru pendapat itulah yang keliru. Mereka bukan 'jadi lupa menghindar'
tetapi mereka tidak menyadari akan 'adanya bahaya yang harus dihindari.'
Karena itulah, manusia harus bisa menggerakkan 'Naluri Kepedulian' yang hanya dimiliki manusia. Kalau mereka tidak menyadarinya, alihkan perhatian mereka. Saat itu, salah satu permasalahan terbesar ketika suatu bencana menghadang masyarakat modern adalah, orang-orang yang berada di ambang bahaya cenderung 'tidak berusaha menyelamatkan diri.' Terutama masyarakat materialistis, sehingga timbul opini bahwa harta benda berlimpah menyebabkan golongan ini berat untuk melangkah. Bergerak secara berkelompok, itulah karakteristik manusia yang paling mencolok. Dengan kata lain, dengan bertindak di luar kebiasaan frontal, manusia akan merasa 'malu' atau 'merepotkan.'
Dan hal itu menjadi faktor utama mengapa seseorang kesulitan untuk mengungsi dengan baik dalam kelompoknya.

Dengan berbagai kondisi tidak menguntungkan inilah, di pagi hari ini,

- Tahun 1755, tsunami menghancurkan Lisboa, Ibu Kota Portugal, dan menelan 60.000 korban jiwa.

- Tahun 1883, letusan gunung Krakatau menyebabkan tsunami menewaskan lebih dari 36.000 jiwa.

Dengan jumlah yang melampaui kedua bencana sebelumnya, dengan korban tewas dan hilang sebanyak 190.000 jiwa

Tepat 5 hari menjelang tahun baru 2005.

Pukul 07.58

Gempa disertai tsunami melanda Banda Aceh dan sekitarnya.

Ketingian ombak mencapai 35 m di atas permukaan laut, sungguh dahsyat. Lebih dari itu, tsunami juga menelan banyak korban dari orang-orang yang sedang berkumpul di tebing laut dan pantai, titik 0 meter dari permukaan laut untuk menyaksikan matahari terbit menjelang tahun baru. Seakan mereka datang hanya untuk mati.

Beberapa puluh menit berlalu, hingga akhirnya serangan gelombang tsunami berlalu. Selama itu, tidak ada seorang pun yang bisa melakukan sesuatu, sekalipun dirinya seorang penyelamat profesional. Tidak ada apa pun, selain menggantungkan nasib pada pilihan mati atau bertahan hidup.

Bila dilihat sekilas dari udara, yang terlihat hanyalah pemandangan garis pantai yang indah seperti biasa, tetapi begitu mengubah arah pandangan ke daratan, di sana aku menemukan suatu pemandangan yang sangat memilukan di depan mata. Tapi aku selamat. Kami masih hidup. Dengan tubuh penuh air garam dan keringat serta nafas yang tersengal-sengal, kami masih hidup.

“Rudi. Aku. Aku harus pergi.”

“Ya. Pergilah. Hati-hati. Aku. Aku. Akan pulang ke rumah.” tanpa kulihat, kutahu. Sudut matanya telah berubah.

Dengan segenap nafas yang kumiliki aku berteriak.

“Yang seperti ini bukan sesuatu yang bisa dihadapi seorang diri dengan peralatan apapun. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh manusia yang tidak memiliki alat bantu, predikat, atau keahlian apa pun. Jika masih di sini beberapa jam lagi, tenaga terkuras, urat syaraf menegang. Justru kita yang akan menjadi korban berikutnya. Sebelum menjadi seperti itu, kita harus pergi dengan selamat.”

Air wajahnya melemah. Seakan tersadar.

“Benar juga, kau benar. Itu bagus. Sampai-sampai tidak memikirkanmu. Maaf, ya. Rudi. Baiklah, hati-hati.” Setelah mengatakan itu ia berlari lagi, menuju garis tepi pantai.

Ja, jangan bercanda.

“Oi”

“Oi, hei.”

“Oiii”

“THALLIA!!”

Aku berjalan seorang diri di antara serakan tumpukan benda-benda, tubuh-tubuh sekarat dan mayat manusia yang terhempas gelombang.

Sebenarnya berapa orang? 50 ribu? Bukan. 100 ribu? Salah.

Entah kenapa kepalaku kembali ke kejadian tadi, kuingat setelah aku meneriakkan namanya, ia berhenti dan menoleh ke arahku. Awalnya terkejut, kemudian tersenyum. “Akhirnya kau memanggil namaku Rudi. Sampai bertemu.” Ia melanjutkan larinya.

Bodoh. Apa yang ia pikirkan?

Sesuai dugaanku, setelah jarak berkilo-kilometer terpisah dari pantai, pemandangan kehidupan normal mulai terlihat. Besarnya dampak dari bencana itu, belum tersampaikan secara akurat. Supir taksi yang aku tumpangipun hanya berkata, “Katanya, banyak orang yang terhempas gelombang laut. Sungguh menyedihkan sekali.” Bukti bahwa masyarakat di sini belum mengetahui apa arti dari tsunami.

Sesampaiku di rumah, aku menghempaskan tubuh ke kasur dan tidur berjam-jam bagaikan lumpur.

Samar-samar kudengar suara. Aku membuka mataku. Sebuah stasiun TV tengah membawakan berita tentang peristiwa kemarin.

“Tidak ada catatan yang menunjukkan adanya tanda peringatan bahaya tsunami saat itu. Tapi beberapa saksi ada yang mengatakan mendengar bunyi klakson yang memekakan telinga.” lalu bisa-bisanya ia dengan tenang memperlihatkan mayat-mayat yang berceceran di sana-sini. Seakan itu hanyalah santapan sehari-hari. Melihatnya tersenyum pada akhir acara, kuganti stasiun TV.

“Saya mengucapkan turut berduka bagi seluruh korban. Dibanding tahun lalu, pemerintah mulai saat ini akan lebih memperhatikan aktivitas gunung berapi dan kemungkinan gempa.” Seseorang berpakaian jas lengkap dengan dasinya, dikawal oleh empat orang berdiri tegap di layar kaca.

“Apakah bapak presiden bermaksud melakukan kunjungan ke lokasi bencana?”

“Bapak presiden memang mengajukan maksudnya untuk melakukan inspeksi lokasi dan menjenguk para korban, tetapi agar dapat memberikan instruksi secara tepat, beliau harus berada di ibukota.”

“Di lokasi bencana, semua terlihat terombang-ambing bagaikan lumpur. Bagaimana perasaan Anda tentang hal itu?”

Ia terdiam sejenak. “Siapapun sebagai seorang manusia tentu saja kami merasa prihatin dan sedih.” Pemerintah setiap harinya...” belum selesai ia bicara, kembali pertanyaan lain melayang.

“Menurut sumber kami, pemerintah telah diinformasikan oleh BMG bahwa ada sinyal abnormal yang dimungkinkan sebagai potensi tsunami. Masalahnya pemerintah tidak mendengarkan pendapat observator karena takut seandainya tsunami tidak terjadi, siapa yang akan bertanggung pada kepanikan yang terjadi. Bagaimana tanggapan Anda?”

Ia kesulitan menjawab.

Kumatikan pesawat TV.

Beberapa hari kemudian, aku mengetahui sesuatu. Walaupun bencana alam kali ini tidak memberikan kerusakan berarti beberapa kilometer dari pinggir pantai, tetapi karena terjadi pada saat yang 'istimewa', saat terbitnya matahari menjelang tahun baru, presentase jumlah korban cukup mengejutkan. Situasi 'istimewa' itu, dilihat dari kerusakan material dan jumlah penduduk yang tewas memang tidak terlalu jauh berbeda. Tetapi apabila dilihat dari dampak pukulan psikologis, terlihat suatu kekhasan yang ganjil antara masyarakat Indonesia, terutama pada tanggal 5 Januari, saat Indonesia memulai hari bekerjanya. Bencana sebesar ini secara internasional pun akan ditetapkan sebagai bencana luar biasa. Dampak psikologis yang kuat pada masyarakat seakan-akan suatu hal yang sewajarnya terjadi. Siapapun dengan seksama memperhatikan berita perkembangan terbaru setiap harinya. Dari 200 ribu orang, 40 ribu orang hilang. Bila kondisi itu direfleksikan ke sebuah situasi di satu lantai dalam perusahaan besar, saat terdapat dua atau tiga orang pegawai yang tidak masuk kantor karena merupakan salah satu korban dalam peristiwa tersebut, hanya akan terlihat seperti sedang meninggalkan mejanya. Tentu saja setelah merintih, mendesis, bersimpati, berbela sungkawa untuk sekadar berbasa-basi tentang kekhawatiran dan ketidakhadiran seorang teman, mereka akan mengikuti kesepakatan tidak tertulis dan memutuskan akan bisa menjalani hari ini seperti hari-hari biasanya. Dengan sikap pengertian yang luar biasa, mereka menerima kejadian luar biasa bencana alam, dan sepakat untuk memulai menjalani hari esok tanpa ada sesuatu pun yang berubah.

Seakan-akan kejadian luar biasa, bencana alam besar yang terjadi di dalam negeri disamakan dengan bencana alam atau peperangan yang terjadi di belahan bumi lain. Masyarakat Indonesia, menganggap ini sebagai suatu kejadian yang akan dimengerti tanpa perlu dibicarakan. Dengan anggapan masalah orang lain, peristiwa ini pun selesai begitu saja.

Kupandang sekalilagi surat kabar pagi itu. Masih tergeletak begitu saja di sana. Ratusan ribu nama terpampang. Dengan headline 'Korban Tsunami Aceh 2004', kulirik sekali lagi urutan T. Urutan ke-8 dari atas, tanpa sadar kubaca “Thalia Kasih (20).”

“Untung kau mengajakku. Dan pas sekali, aku juga lagi senggang. Sungguh. Sudah lama sekali aku tidak melewati malam natal sesenang ini. Yah, walaupun lewat sehari.” Ia tersenyum. Pandangannya lurus, penuh harapan. Secerah cahaya mentari yang ia tatap. “Makanya aku yakin, tahun ini pasti tahun yang baik.” Kemudian seperti teringat sesuatu, ia menoleh. “Benar juga. Rudi, apa yang kau harapkan tahun ini?” Lagi kuteringat saat itu.

Kulirik matanya sekilas. Kata-katanya mengingatkanku pada seorang paman berkumis yang mengenakan topi bundar dengan jaket bulu hijau panjang serta beberapa batang coklat di tanganya.
“Negeri ini bagiku sudah tamat. Walau semua orang menyadarinya, tak seorangpun yang berniat melakukan sesuatu. Paman, kalau memang pernah berada di luar negeri, tentu mengerti bukan? Siapapun yang pernah melihat Indonesia dari luar, pasti akan berpikir sama. Indonesia suatu saat akan mengalami kemorosotan yang memalukan.”

Aku tidak begitu ingat, apa yang telah kami bicarakan hingga aku berkata demikian. Satu hal yang aku tahu, aku membenci paman ini.

“Cara negara ini menggunakan uang juga tak diketahui siapapun.
Asal ada uang, kau bisa melakukan apa saja, kebebasan individu tidak ada.” Kuperhatikan ia, air wajahnya masih sama. Tidak ada ekspresi sama sekali. Dengan tenangnya ia mengunyah cokelat.

Dengan sinis kulanjutkan, “Yang merajalela, hanyalah para customer bodoh, yang menyantap habis tanpa membuat atau menghasilkan sesuatu.”

Senyum sinisku makin melebar. Kumasukkan tanganku ke dalam saku jaket hijau yang sedang kugunakan saat itu. Membungkuk, berpura-pura memperhatikan layar komputer, kulanjutkan.

“Semua orang bicara tanpa menatap lawan bicara, malah menatap hal lain dengan serius.” Kulihat ia sekali lagi. Masih mengunyah. “Entah itu layar game, TV, layar komputer atau handphone. Menjijikan.

Selain itu, orang yang memiliki kemauan untuk bergerak sesuai visi ke depan, terhadap orang yang berkemampuan, justru memujanya dengan tulus. Ketika akan memuji, dia menjilat sambil menangkupkan telapak tangannya. Kebiasaan yang tak bisa diperbaiki lagi dan tidak bisa dihilangkan.
Itulah gambaran negeri ini dalam mataku. Para DPR dan Mentri berpura-pura tidak bisa apa-apa sambil berorasi dengan lugas. Pihak oposisi juga sama, tak seorangpun memiliki kemampuan berdebat yang mampu menunjukan suatu permasalahan yang akurat. Pejabat-pejabat negara yang tidak berguna.”

Coklatnya habis. Ia mengambil batangan lainnya. Kembali mengunyah. “Intinya, kelompok naif yang tidak mau disebut pecundang,
kekuasaan, ekologi, pencarian jati diri, gaya hidup, menimbulkan budaya konsumtif.
Karena tak punya kemampuan, mereka mencoba memulai teror debat pendapat. Selama neraka belum terlihat, mereka mulai berbicara dengan harapan menjadi terkenal dalam sekejap, dengan begitu, budaya radikalpun menjadi wajar.”
Sekarang aku berdiri berhadap-hadapan dengannya. Hanya terpisah beberapa langkah. Kusadari, ia lebih pendek sedikit dariku.

“Dan orang bodoh seperti Anda berkawan dengan mereka.”

Masih. Air mukanya tetap begitu saja. Pandangan matanya begitu tumpul. Yang dilihatnya bukan aku. Tapi udara kosong di depannya.

“Apa?”

“Hmm. Pendapatmu tak bisa kutentang.” Untuk pertama kalinya ia bicara.

Aku berbalik, kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. Kuberkata lagi.

“Parahnya, mereka tidak sadar kalau begitu terus mereka akan terisolasi dari dunia. Bukan. Walau mereka menyadarinya, tidak ada seorangpun yang berniat melakukan sesuatu.”

“Begitu, karena itu kau tidak peduli apapun yang terjadi pada Indonesia?” Pertanyaan pertamanya. Aku sudah muak. Sial. Aku makin membenci paman ini.

“Kupikir, negara seperti ini lebih baik hancur saja sekalian. Apapun yang terjadi pada negeri ini, aku bisa di tempat lain di dunia ini. Aku mengerti, orang akan berkata apa kalau aku bicara begini. Kuungkapkan karena kau bilang soal saling terbuka. Setiap orang pasti memendam sesuatu dalam hatinya bukan? Begitu pula aku, percaya akan kebenaran ini. Nggak ingin membicarakannya sih.”

Aku kembali di sini. Banyak sekali orang beralu-lalang membawa koper disekelilingku. Namun aku tetap di sini. Terdiam.

Beberapa menit aku terdiam di situ. Aku bangkit berdiri, kemudian berlalu.

Sosokku sebagai Rudi Prattama yang berkewarganegaraan Indonesia, berkebangsaan Indonesia, dan berkesatuan Indonesia di hari itu terlihat untuk terakhir kalinya.

Jumat, 16 Januari 2009

Hasil Penelitian Saya tentang Manusia Indonesia

Jalan di malam hari,
ketika mendengar cerita tentang seekor makhluk hidup yang hampir tertabrak mobil,
"kenapa dia tidak menghindar ketika tersorot lampu mobil"?
Mungkin pendapat seperti itu bergema di telinga kita.
Tapi justru pendapat itulah yang keliru.
Mereka bukan 'jadi lupa menghindar'
tetapi mereka tidak menyadari akan 'adanya bahaya yang harus dihindari'

karena itulah, manusia haarus bisa menggerakkan 'Naluri Kepedulian' yang hanya dimiliki manusia. Kalau mereka tidaak menyadarinya, alihkan perhatian mereka. Saat itu...

Ada suatu kekeliruan dalam kebijaksaan struktur sosial yang menimbulkan opini ketidakadilan.
-Pentingnya keberadaan divisi psikologi bencana pun baru disadari pada awal abad ke-21.
zaman yang seperti itulah,
dengan kata lain,
salah satu permasalahan terbesar ketika suatu bencana menghadang masyarakat modern adalah...

Orang-orang yang berada di ambang bahaya cenderung 'tidak berusaha menyelamatkan diri'
Terutama masyarakat materialistis, sehingga timbul opini bahwa harta benda berlimpah menyebabkan golongan ini berat untuk melangkah.
Bergerak secara berkelompok, itulah karakteristik manusia indonesia yang paling mencolok, dengan kata lain...

Dengan bertindak di luar kebiasaan frontal, manusia akan merasa 'malu' atau 'merepotkan'...

Dan hal itu menjadi faktor utama mengapa seseorang kesulitan untuk mengunsi dengan baik dalam kelompoknya.

Indonesia

Jauh dalam lubuk hati, aku berharap..
Negara yang sudak tak berguna ini lebih baik dimussnahkan saja.

*****

Negeri ini bagiku sudah tamat.
Walau semua orang menyadarinya, tak seorangpun yang berniat melakukan sesuatu.
Siapapun, kalau memang berada di luar negeri, tentu mengerti bukan?
siapapun yang pernah melihat Indonesia dari luar, pasti akan berpikir sama.
Indonesia suatu saat akan mengalami kemorosotan yang memalukan.

Membina karir di luar negeri, lalu kembali ke Indonesia untuk bekerja.
Cara negara ini menggunakan uang juga tak diketahui siapapun.
Asal ada uang, kau bisa melakukan apa saja, kebebasan individu tidak ada.

Yang merajalela...
Hanyalah para customer bodoh...
yang menyantap habis tanpa membuat atau menghasilkan sesuatu.

Semua orang bicara tanpa menatap lawan bicara, malah menatap hal lain dengan serius.
Entah itu layar game, TV, layar komputer atau handphone,
Menjijikan.

Selain itu, orang yang memiliki kemauan untuk bergerak sesuai visi ke depan, terhadap orang yang berkemampuan
justru memujanya dengan tulus, ketika akan memuji...
dia menjilat sambil menangkupkan telapak tangannya...
kebiasaan yan tak bisa diperbaiki lagi dan tidak bisa dihilangkan.

Itulah gambaran negeri ini dalam mataku.
Para DPR dan Mentri berpura-pura tidak bisa apa-apa sambil berorasi dengan lugas
"Aku melakukannya karena kalian semua minta"

Pihak oposisi juga sama, tak seorangpun memiliki kemampuan berdebat yang mampu menunjukan suatu permasalahan yang akurat.
"Setuju. Setuju. Anda benar sekali. Benar."

Pejabat-pejabat negara yang tidak berguna.


Kelompok naif yang tidak mau disebut pecundang
Kekuasaan,
Ekologi,
Pencarian jati diri,
Gaya hidup,
menimbulkan budaya konsumtif.
Intinya, karena tak punya kemampuan, mereka mencoba memulai teror debat pendapat.
Selama neraka belum terlihat, mereka mulai berbicara dengan harapan menjadi terkenal dalam sekejap, dengan begitu, budaya radikalpun menjadi wajar.

Dan orang bodoh seperti Anda berkawan dengan mereka.
.....
Apa?

Parahnya, mereka tidak sadar kalau begitu terus mereka akan terisolasi dari dunia, bukan...
Walau mereka menyadarinya, tidak ada seorangpun yang berniat melakukan sesuatu.


Kupikir, Negara seperti ini
lebih baik hancur saja sekalian.

Minggu, 11 Januari 2009

Trik Keliatan Keren Saat Ujian Padahal Gak Ngerti Apa-Apa

Semua orang pernah mengalaminya: hari ujian datang, kertas dibagikan, semuanya sudah siap dikerjakan. Tapi apa yang terjadi? Soalnya susah banget dan kita gak bisa ngerjain apa-apa. Kita lihat ke kiri dan kanan… ternyata temen-temen sekelas malah lancar mengerjakan soal! Pelacur! (lho?) Kita tidak bisa tinggal diam, kalo bengong akan keliatan bego sendiri. Kita harus pura-pura bisa! Yeah! Darah itu merah, Pelangi itu mejikuhibiniu!

Maka, inilah tulisan yang akan membantu kalian mendapatkan respek di dalem lingkup pergaulan. Jangan sampai harga diri jatuh karena dikira gak bisa ngerjain ujian. Inilah, tulisan maut berjudul Trik Keliatan Keren Saat Ujian Padahal Gak Ngerti Apa-Apa. UOOOOH!

Trik 1: Komat Kamit
Pandangi kertas ujian Anda sambil komat-kamit, niscaya orang yang melihat Anda pasti akan berpikir, ‘Waw, orang ini komat-kamit terus, pasti dia lagi mencoba mengingat-ingat kembali’. Ketika sedang komat-kamit, hindari kalimat basi seperti ‘was-wes-wos’, cobalah variasi komat-kamit lain seperti ‘cap-cip-cup-belalang-kuncup’ atau ‘dadadam-dadadam-dadadam-dadam (lho kok jadi lagunya radja?). Biar afdol, kamu bisa ikutin gaya Mbah Dukun sambil nyemburin aer ke seisi kelas.

Trik 2: Tampang Serius
Pandangi kertas soal dengan serius. Alis diangkat ke atas membentuk huruf V kebalik, mata melotot, hidung besar, lalu diam tanpa melakukan apa-apa. Temen-temen pasti mengira Anda sedang berkonsentrasi penuh dengan segenap jiwa raga atau Anda sudah lima hari susah buang air besar. Tingkat kesulitan: cukup sulit.. atau sangat mudah (jika anda susah buang air besar beneran).

Trik 3: Keluar Lebih Dulu
Keluar duluan pasti menimbulkan decak kagum. Rahasianya adalah keluar tidak terlalu cepat, tapi juga tidak keluar terlalu lama. Ya, begitu ada orang yang keluar ruangan, teman-teman biasanya langsung menggumam, ‘Weisss’ atau ‘Waaaah udah selese’. Sambil keluar, usahakan badan tegap, sorot mata mantap, untuk membantu, nyanyikanlah ‘Bangun Pemudi-Pemuda’ di dalam hati. Jangan menyanyi lagu Inul dalam hati, Anda tidak ingin keluar ruangan dengan pantat ngebor-ngebor.

Trik 4: Menaruh Kertas Di Depan Muka Sambil Manggut-Manggut
Begitu duduk dan terima kertas soal, langsung bentangkan lebar-lebar layaknya jagoan. Sesekali kipas-kipaskan kertas soal tersebut seolah-olah isinya sangat-sangat gampang. Jangan lupa untuk membolak-balik kertas dan berkata, ‘Ah, ginian doang.’ Sertakan lirikan maut ke teman-teman yang lain.

Trik 5: Sok Nanya Pengawas
Panggilah pengawas (yang tentunya bukan guru mata pelajaran yang ngerti tentang mata pelajaran yang diujikan), lalu tanyalah pertanyaan misalnya seperti ini: ‘Pak, numpang nanya, soal nomor dua ini… saya bingung harus jawab secara pragmatik atau lebih ke arah teoritik aja ya? Ah maaf, ini masalah saya. Bukan masalah Bapak.’ HINDARI pertanyaan yang tidak nyambung sama soalnya seperti, ‘Pak, udah makan belom?’ atau ‘Pak, waktu kemaren belanja baju di mall A ya… Oh bukannnn! Ih mirip lho Pak sama yang saya lihat!’

Ingat, musim abis ultah sekolah = musim ulangan yang bejibun kaya pasir di kutub utara= musimnya pura-pura pinter!!!!


Ada yang mau bagi-bagi trik pribadi?

Anime di Indonesia

Gw bingung ama anime di Indonesia,, kayaknya orang2tua tu cuma mikir kalo anime is for child, adult go hell! gitu… contohnya Naruto, setelah episodenya selesai, trus keluar 2 bocah,, 1 cowo kerempeng, ama satu cewe… trus mereka bilang “KALO KALIAN MAU KUAT SEPERTI NARUTO MINUM AIR KERAN!” padahal dari banyak site kita bisa menyimpulkan bahwa di luar sana anime bukan cuma buat anak kecil…

Sama setelah naruto, keluar anime yang gw tungguin, yaitu Bleach… sebelum bleach tuh ada bocah2 juga,, cowo ama cewe, dan seekor singa imbisil yang bilang “ayo sebelum nonton bleach minum milkuat dulu..!!” hoohhh…. dan anak cowonya dengan lebay dan maksain teriak2 “HORE!!!” sarap…

kayak dulu juga, Craon shinchan dicekal ga boleh tayang cuma gara2 bahaya kalo dicontoh anak2, orang tuanya aja yang geblek kalo anaknya disuruh ngikutin crayon shinchan nunjukin $#@% ke orang banyak….

sama naruto dulu ada headline koran tulisannya “ANAK MENIRU NARUTO MATI” ya iyalah secara dia cuma kartun, bocahnya aja geblek, ikut2an loncat dari genteng, ikut2an ngambang di aer, ikut2an makan ramen tiap hari, usus buntu lo mampuss….

yang terakhir gw denger tuh one piece dicekal bakal ga tayang, walopun emang sekarang udah ga ada lagi, tapi kann…. lagian gila aja ada bocah ngulur2 tangannya kaya lufi, ato gigit2 piso dapur kaya zoro… kalo gitu kan yang goblok bocahnya…

kemaren gw habis dari toko buku, nyari manga naruto 42, trus ngeliatin bocah umur 6 tahun gitu nunjuk2 buku manga cinta2an yang terbitan level comic (penerbit komik khusus dewasa..dan kalo gw bilang dewasa itu berarti…DEWASA BENERAN!!), anak itu bilang “MA, BELIIN INI MA, INI BAGUS, AKU UDA PERNAH BACA, HUWAAA!!!” goblok, mana ada bocah umur segitu baca manga cinta2an…. lagian toko buku jug konyol, masa manga yang udah ada label dewasanya kaya level comic masih dijadiin satu ama manga kaya doraemon, keroro gunso… emang dunia manga indonesia harus diperbaiki….